sutan rachmawati
Selasa, 01 April 2014
Jumat, 18 Januari 2013
Belajar dari sebuah PENSIL :)
Belajar dari sebuah Pensil ...
Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat. “Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.” “Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi.
Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. “Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.” “Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”
Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil. “Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan ALLAH, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.
“Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
“Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”..
“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.
“Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda / goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah berhati-hati dan sadar terhadap semua tindakanmu”.
Rabu, 12 Desember 2012
Seminar Nasional dan Sosialisasi Membangun Budaya Digital di Perguruan Tinggi
Rabu, 05 Desember 2012 14:03 WIB
Prof. Dr. Musa Asyarie membuka seminar dengan Gong Digital
(4/12/2012) Pusat Komputer dan Sistem Informatika (PKSI) UIN Sunan
Kalijaga adakan Seminar nasional dengan tema "Digital Lifestyle
Experience for Higher Education". Acara ini diadakan digedung
Convention Hall dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, karyawan dan
masyarakat umum. Seminar ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Sunan
Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy'arie dengan Gong Digital. Menurut Ketua
PKSI, Agung Fatmanto, Ph.D., kegiatan ini diadakan sebagai komitmen UIN
Sunan Kalijaga dalam mewudkan kampus digital dan sebagai upaya membangun
budaya digital di perguruan tinggi. “ Di era globalisassi saat ini,
perguruan tinggi harus memaksimalkan pengunaan tekhnologi digital,
mengingat perkembangan arus informasi yang begitu pesatnya, hal ini
sebagai imbas dari kemajuan dunia digital yang terjadi saat ini.
Penerapan teknologi digital juga harus dibarengi dengan peningkatan
pengetahuan teknologi komputerisasi bagi seluruh civitas kampus, baik
dosen, pegawai dan mahasiswanya, agar menjadi sinergisitas”, tutur Agung
Fatmanto yang juga dosen pada Fakultas Sains dan Teknologi. Dalam
seminar ini menghadirkan Ryan Fabella (Client Software Architec IBM),
Pepita Gunawan (Indonesian Google Southeast Asia dan Agung Fatmanto,
Ph.D. sebagai pembicara.
Dalam sambutannya Musa Asyarie menyampaikan bahwa, UIN Sunan Kalijaga
akan senantiasa mengembangkan kampus menuju kampus digital, karena,
dengan penerapan teknologi digital, semua akses informasi akan menjadi
mudah. Perkembangan teknologi yang begitu pesat seharusnya kita
manfaatkan dan direspons secara positif, jangan sampe dengan
perkembangan itu kita malah menjadi keblinger. “ Saat ini kita sudah
dikuasai oleh dunia ‘kotak’, karena sebagian besar alat teknologi yang
kita gunakan berbentuk kotak, PC, Monitor, PC Tablet, HP, Laptop
semuanya berbentuk kotak. Melihat hal ini, kita jangan sampai
dikotak-kotakkan oleh barang ‘kotak’ ini. Karena dengan barang ‘kotak’
ini individualisme akan semakin meningkat, untuk itu filter dalam
penggunaan teknologi di era digital ini sangat penting”, tutur Musa.
“ Dalam acara ini juga dihadiri oleh delegasi PTAIN se-Indonesia dan
delegasi pusat komputer Perguruan Tinggi dan civitas Mahasiswa se-DIY ”,
tambah Agung. *(Doni Tri W-Humas UIN Suka)
Sumber : www.uin-suka.ac.id
Rabu, 17 Oktober 2012
My University
Sekilas UIN Sunan Kalijaga
1951-1960
Periode Rintisan
Periode ini dimulai dengan Penegerian Fakultas Agama Universitas Islam
Indonesia
(UII) menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang diatur dengan
Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950 Tanggal 14 Agustus 1950 dan
Peresmian PTAIN pada tanggal 26 September 1951. Pada Periode ini,
terjadi pula peleburan PTAIN (didirikan berdasarkan Peraturan Presiden
Nomor 34 Tahun 1950) dan ADIA (didirikan berdasarkan Penetapan Menteri
Agama Nomor 1 Tahun 1957) dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor
11 Tahun 1960 Tanggal 9 Mei 1960 tentang Pembentukan Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) dengan nama Al-Jami'ah al-Islamiyah al-Hukumiyah.
pada periode ini, PTAIN berada di bawah kepemimpinan KHR Moh Adnan
(1951-1959) dan Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya (1959-1960)
Periode Rintisan
1960-1972
Periode Peletakan Landasan
Periode
ini ditandai dengan Peresmian IAIN pada tanggal 24 Agustus 1960. Pada
periode ini, terjadi pemisahan IAIN. Pertama berpusat di Yogyakarta dan
kedua, berpusat di Jakarta berdasarkan Keputusan Agama Nomor 49 Tahun
1963 Tanggal 25 Februari 1963. Pada periode ini, IAIN Yogyakarta diberi
nama IAIN SUnan Kalijaga berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 26
Tahun 1965 Tanggal 1 Juli 1965. Pada periode ini telah dilakukan
pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, dimulai dengan pemindahan
kampus lama (di Jalan Simanjuntak, yang sekarang menjadi gedung MAN 1
Yogyakarta ) ke kampus baru yang jauh lebih luas (di Jalan Marsda
Adisucipto Yogyakarta). Sejumlah gedung fakultas dibangun dan di
tengah-tengahnya dibangun pula sebuah masjid yang masih berdiri kokoh.
Sistem pendidikan yang berlaku pada periode ini masih bersifat 'bebas'
karena mahasiswa diberi kesempatan untuk maju ujian setelah mereka
benar-benar mempersiapkan diri. Adapun materi kurikulumnya masih mengacu
pada kurikulum Timur Tengah (Universitas Al-Azhar, Mesir) yang telah
dikembangkan pada masa PTAIN. Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga
berada di bawah kepemimpinan Prof. RHA Soenarjo, SH (1960-1972).
Periode Peletakan Landasan
1972-1996
Periode Peletakan Landasan Akademik

Pada
periode ini, IAIN Sunan Kalijaga dipimpin secara berturut-turut oleh
Kolonel Drs. H. Bakri Syahid (1972-1976), Prof. H. Zaini Dahlan, MA
(selama 2 masa jabatan: 1976-1980 dan 1980-1983), Prof. Dr. HA Mu'in
Umar (1983-1992) dan Prof. Dr. Simuh (1992-1996). Pada periodeini,
pembangunan sarana prasarana fisik kampus meliputi pembangunan gedung
Fakultas Dakwah, Perpustakaan, Program Pascasarjana, dan Rektorat
dilanjutkan. Sistem pendidikan yang digunakan pada periode ini mulai
bergeser dari 'sistem liberal' ke 'sistem terpimpin' dengan
mengintrodusir 'sistem semester semu' dan akhirnya 'sistem kredit
semester murni'. Dari segi kurikulum, IAIN Sunan Kalijaga telah
mengalami penyesuaian

yang
radikal dengan kebutuhan nasional bangsa Indonesia. Jumlah fakultas
bertambah menjadi 5 (lima); yaitu Fakultas Adab, Dakwah, Syari'ah,
Tarbiyah dan Ushuluddin. Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga dibuka
pada periode ini, tepatnya pada tahun akademik 1983/1984. Program
Pascasarjana ini telah diawali dengan kegiatan-kegiatan akademik dalam
bentuk short courses on Islamic studies dengan nama Post Graduate Course
(PGC) dan Studi Purna Sarjana (PPS) yang diselenggarakan tanpa
pemberian gelar setingkat Master. Untuk itu, pembukaan Program
pAscasarjana pada dasawarsa delapan puluhan tersebut telah mengukuhkan
fungsi IAIN Sunan Kalijaga sebagai lembaga akademik tingkat tinggi
setingkat di atas Program Strata Satu.
Periode Peletakan Landasan Akademik
1996-2001
Periode Pemantapan Akademik dan Manajemen
Pada
periode ini, IAIN Sunan Kalijaga berada di bawah kepemimpinan Prof. Dr.
HM. Atho Mudzhar (1997-2001). Pada periode ini, upaya peningkatan mutu
akademik, khususnya mutu dosen (tenaga edukatif) dan mutu alumni, terus
dilanjutkan. Para dosen dalam jumlah yang besar didorong dan diberikan
kesempatan untuk melanjutkan studi, baik untuk tingkat Magister (S2)
maupun Doktor (S3) dalam berbagai disiplin ilmu, baik di dalam maupun di
luar negeri. Demikian pula peningkatan sumber daya manusia bagi tenaga
administratif dilakukan untuk meningkatkan kualitas manajemen dan
pelayanan administrasi akademik. Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga
semakin berkonsentrasi untuk meningkatkan orientasi akademiknya dan
mengokohkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan tinggi. Jumlah
tenaga dosen yang bergelar Doktor dan Guru Besar meningkat disertai
dengan peningkatan dalam jumlah koleksi perpustakaan dan sistem
layanannya.
Periode Pemantapan Akademik dan Manajemen
2001-2010
Periode Pengembangan Kelembagaan
Periode
ini dapat disebut sebagai 'Periode Trasformasi', karena, pada periode
ini telah terjadi peristiwa penting dalam perkembangan kelembagaan
pendidikan tinggi Islam tertua di tanah air, yaitu Transformasi Institut
Agama ISlam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga menjadi Universitas Islam
Negeri (UIN) Sunan Kalijaga berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50
Tahun 2004 Tanggal 21 Juni 2004. Deklarasi UIN Sunan Kalijaga
dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2004. Periode ini di bawah
kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah (2001-2005) dengan Pembantu
Rektor Bidang Akademik Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, MA., Ph.D, Pembantu
Rektor Bidang Administrasi Umum Drs. H. Masyhudi, BBA, M.Si. dan
Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. H. Ismail Lubis, MA
(Almarhum) yang kemudian digantikan oleh Dr. Maragustam Siregar, MA.
Pada periode kedua (2006-2010) dari kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah telah dibentuk Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama. Dengan ditetapkannya keberadaan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama, maka kepemimpinan UIN Sunan Kalijaga pada periode kedua ini adalah sebagai berikut : PEmbantu Rektor Bidang Akademik, Dr. H. Sukamta, MA, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum, Dr. H. Tasman Hamami, MA, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Maragustam Siregar, MA, dan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama dijabat oleh Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, MA.
Perubahan Institut menjadi universitas dilakukan untuk mencanangkan sebuah paradigma baru dalam melihat dan melakukan studi terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, yaitu paradigma Integrasi interkoneksi. Paradigma ini mensyaratkan adanya upaya untuk mendialogkan secara terbuka dan intensif antara hadlarah an-nas, hadlarah al-ilm, dan hadlarah al-falsafah. Dengan paradigma ini, UIN Sunan Kalijaga semakin menegaskan kepeduliannya terhadap perkembangan masyarakat muslim khususnya dan masyarakat umum pada umumnya. Pemaduan dan pengaitan kedua bidang studi yang sebelumnya dipandang secara dimatral berbeda memungkinkan lahirnya pemahaman Islam yang ramah, demokratis, dan menjadi rahmatan lil 'alamin.
Periode Pengembangan Kelembagaan
Pada periode kedua (2006-2010) dari kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah telah dibentuk Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama. Dengan ditetapkannya keberadaan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama, maka kepemimpinan UIN Sunan Kalijaga pada periode kedua ini adalah sebagai berikut : PEmbantu Rektor Bidang Akademik, Dr. H. Sukamta, MA, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum, Dr. H. Tasman Hamami, MA, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Maragustam Siregar, MA, dan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama dijabat oleh Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, MA.
Perubahan Institut menjadi universitas dilakukan untuk mencanangkan sebuah paradigma baru dalam melihat dan melakukan studi terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, yaitu paradigma Integrasi interkoneksi. Paradigma ini mensyaratkan adanya upaya untuk mendialogkan secara terbuka dan intensif antara hadlarah an-nas, hadlarah al-ilm, dan hadlarah al-falsafah. Dengan paradigma ini, UIN Sunan Kalijaga semakin menegaskan kepeduliannya terhadap perkembangan masyarakat muslim khususnya dan masyarakat umum pada umumnya. Pemaduan dan pengaitan kedua bidang studi yang sebelumnya dipandang secara dimatral berbeda memungkinkan lahirnya pemahaman Islam yang ramah, demokratis, dan menjadi rahmatan lil 'alamin.
2010-2011
Periode Kebersamaan dan Kesejahteraan
Periode Kebersamaan dan Kesejahteraan
Berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor : B.II/3/16522/2010
Tanggal 6 Desember 2010, Guru Besar Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan
Pemikiran Islam diberi tugas tambahan sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta masa jabatan 2010-2014. Periode di bawah kepemimpinan Prof.
Dr. H. Musa Asy’arie dibantu oleh Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr.
Sekar Ayu Aryani, M.Ag., Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Prof.
Dr. H. Nizar, M.Ag., Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr. H. Akhmad
Rifa’i, M.Phil. dan Pembantu Rektor Bidang Kerja sama Prof. Dr. H.
Siswanto Masruri, MA.
Sumber : UIN SUKA JOGJA
Langganan:
Postingan (Atom)